ASSALAMUALAIKUM

ASSALAMUALAIKUM

Minggu, 21 Agustus 2011

KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM (1/3)


♥ Posted on March 13th, 2006 by admin ♥



Akal adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati. Lalu bagaimana kedudukan akal di dalam Islam?



Pengkultusan kepada akal adalah sumber semua kerusakan di alam semesta, akal dijadikan hakim bagi semua perkara, jika datang syari’at yang tidak dipahami oleh akal, maka syari’at itu akan ditolak.



Dengan pengkultusan pada akal inilah, maka manusia menolak seruan para rasul, karena para rasul mengajak manusia untuk mendahulukan wahyu diatas semua akal dan pemikiran, maka terjadilah pertarungan diantara para pengikut rasul dan para penentangnya.



Para pengikut rasul mendahulukan wahyu diatas semua akal dan pemikiran, adapun para pengikut iblis maka mereka mendahulukan akal diatas semua wahyu!



Karena inilah kita melihat begitu banyak orang-orang awam yang pendek akalnya, sedikit ilmunya, dan lemah pandangannya terkena virus pengkultusan akal ini.



Begitu sering kita mendengar seorang yang jahil memprotes Sunnah Nabi!



Begitu sering kita mendengar seorang yang dungu menentang nash syar’i yang mutawatir!



begitu sering kita mendengar seorang yang baru belajar agama dengan lantang menolak aqidah-aqidah yang baku!



Dalam keadaan mereka ini semua menganggap diri-diri mereka pakar-pakar agama yang jempolan!!



Bahkan mereka kini dielu-elukan oleh manusia dengan sebutan-sebutan yang mentereng; Ustadz…Pemikir…Mujaddid…Filosof…Cendekiawan…dan sebutan-sebutan lain yang kosong dari hakekatnya.



Melihat ini semua, kami memohon taufiq kepada Allah untuk menjelaskan kedudukan akal secara syar’i sekaligus membantah dan mematahkan syubhat-syubhat para pendewa akal ini.





♥ DEFINIS AKAL ♥



Akal secara bahasa dari mashdar Ya’qilu, ‘Aqala, ‘Aqlaa, jika dia menahan dan memegang erat apa yang dia ketahui.1



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,



‘Kata akal, menahan, mengekang, menjaga dan semacamnya adalah lawan dari kata melepas, membiarkan, menelantarkan, dan semacamnya. Keduanya nampak pada jisim yang nampak untuk jisim yang nampak, dan terdapat pada hati untuk ilmu batin, maka akal adalah menahan dan memegang erat ilmu, yang mengharuskan untuk mengikutinya. Karena inilah maka lafadz akal dimuthlakkan pada berakal dengan ilmu.2



Syaikh Al Albani berkata,



“Akal menurut asal bahasa adalah At Tarbiyyah yaitu sesuatu yang mengekang dan mengikatnya agar tidak lari kekanan dan kekiri. Dan tidak mungkin bagi orang yang berakal tersebut tidak lari ke kanan dan kiri kecuali jika dia mengikuti kitab dan sunnah dan mengikat dirinya dengan pemahaman salaf.”3



Al Imam Abul Qosim Al Ashbahany berkata,



”akal ada dua macam yaitu : thabi’i dan diusahakan. Yang thabi’i adalah yang datang bersamaan dengan yang kelahiran, seperti kemampuan untuk menyusu, makan, tertawa bila senang, dan menangis bila tidak senang.



Kemudian seorang anak akan mendapat tambahan akal di fase kehidupannya hingga usia 40 tahun. Saat itulah sempurna akalnya, kemudian sesudah itu berkurang akalnya sampai ada yang menjadi pikun. Tambahan ini adalah akal yang diusahakan.



Adapun ilmu maka setiap hari juga bertambah, batas akhir menuntut ilmu adalah batas akhir umur manusia, maka seorang manusia akan selalu butuh kepada tambahan ilmu selama masih bernyawa, dan kadang dia tidak butuh tambahan akal jika sudah sampai puncaknya.



Hal ini menunjukan bahwa akal lebih lemah dibanding ilmu, dan bahwasanya agama tidak bisa dijangkau dengan akal, tetapi agama dijangkau dengan ilmu.4





♥ PEMULIAAN ISLAM TERHADAP AKAL ♥



Islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, diantara hal yang menunjukan perhatian dan penghormatan islam kepada akal adalah :



Islam memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dalam rangka mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupannya.



Islam mengarahkan kekuatan akal kepada tafakkur (memikirkan) dan merenungi (tadabbur) ciptaan-ciptaan Allah dan syari’at-syari’atnya sebagaimana dalam firmanNya,



Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadiaan) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) benar dan waktu yang telah ditentukan, Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rum : 8) ,



“ Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal”, (Al Baqarah : 184),



“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maak bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Jumu’ah : 9).



Islam melarang manusia untuk taklid buta kepada adat istiadat dan pemikiran-pemikiran yang bathil sebagaimana dalam firman Allah,



Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”, (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al Baqarah : 170).



Islam memerintahkan manusia agar belajar dan menuntut ilmu sebagaimana dalam firman Allah,



”Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (QS. At Taubah : 122).



Islam memerintahkan manusia agar memuliakan dan menjaga akalnya, dan melarang dari segala hal yang dapat merusak akal seperti khomr, Allah berfirman,



“Hai, orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maidah, 90).





♥ RUANG LINGLKUP AKAL DALAM ISLAM ♥



Meskipun islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, tetapi tidak menyerahkan segala sesuatu kepada akal, bahkan islam membatasi ruang lingkup akal sesuai dengan kemampuannya, karena akal terbatas jangkauannya, tidak akan mungkin bisa menggapai hakekat segala sesuatu.



Maka Islam memerintahkan akal agar tunduk dan melaksanakan perintah syar’i walaupun belum sampai kepada hikmah dan sebab dari perintah itu.



Kemaksiatan yang pertama kali dilakukan oleh makhluk adalah ketika Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam,



Iblis berkata: ”Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah..” (QS.Shaad ; 76).



Karena inilah islam melarang akal menggeluti bidang-bidang yang diluar jangkauannya seperti pembicaraan tentang Dzat Allah, hakekat ruh, dan yang semacamnya, Rasulullah bersabda,



”Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, janganlah memikirkan tentang Dzat Allah.5



Allah berfirman,



Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al Isra’ : 85).





Catatan Kaki



…1 Lihat Lisanul Arab, 11/458 dan Bughyatul Murtaad, hal. 249.

…2 Bughyatul Murtaad, hal. 250-251.

…3 Majalah Salafiyyah Riyadh, Edisi 2 tahun 1417 H hal. 24.

…4 Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2 / 502-504.

…5 Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah shahihah: 1788.

______________________________________________________





^ KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM (2/3) ^



♥ Posted on March 20th, 2006 by admin ♥



Setelah mengetahui definisi akal, ruang lingkup dan pemuliaan Islam terhadapnya, maka pembahasan selanjutnya mulai mengarah kepada segolongan manusia yang mendewakan akal, mendudukkan akal manusia dengan kedudukan yang sangat tinggi. Siapa-siapa saja mereka ini?





♥ KELOMPOK RASIONALIS (PENDEWA AKAL) ♥



Rasionalisme atau ‘Aqlaaniyyah adalah madzhab filsafat yang memandang segala sesuatu yang tunduk kepada kaidah-kaidah akal, bahkan makna-makna agama jika tidak sesuai dengan kaidah-kaidah akal harus ditolak!!6



Maka hakekat rasionalisme adalah membuang nash syar’i yang tidak sesuai dengan pandangan akal atau hawa nafsu.7



Bapak rasionalisme yang pertama kali adalah Iblis, dia mengandalkan akalnya yang memandang bahwa api lebih mulia dari tanah sehingga menolak perintah syar’i dari Allah untuk sujud kepada Adam.



Pemikiran Iblis ini kemudian diteruskan oleh para penerusnya seperti :



1. Kelompok Mu’tazillah



Kelompok ini adalah pioner semua kelompok rasionalis dalam Islam, mereka menjadikan akal sebagai hakim secara mutlak, mereka promosikan akal setinggi-tingginya, mereka mengatakan,



“Akal diciptakan dengan tujuan untuk mengetahui segala sesuatu, dia mampu mengetahui segala sesuatu yang terlihat dan yang tidak terlihat (?!)”



Mereka jadikan akal sebagai penentu kayakinan mereka di semua segi keyakinan mereka.



Karena itu mereka berbondong-bondong mempelajari filsafat Yunani, sekaligus mengikuti para filosof Yunani. Mereka jadikan dalil-dalil akal diatas dalil-dalil syar’i. Mereka dustakan hadits-hadits yang tidak sesuai dengan akal, walaupun hadits-hadits itu shahih! Mereka takwil ayat-ayat yang tidak mencocoki dengan pemikiran mereka, meskipun ayat-ayat itu sangat jelas!, bahkan mereka berusaha menyeret ibarat-ibarat dan tafsir-tafsir Al Qur’an kepada pemikiran mereka.8



Inilah beberapa perkataan gembong-gembong mereka :



Al Qodhi Abdul Jabbar menyebutkan urutan dalil-dalil syar’i menurutnya,



”Yang pertama adalah akal, karena dengannya bisa dibedakan baik dan buruk, dan dengan akallah bahwa kitab adalah hujjah, demikian juga Sunnah dan Ijma’(!!)9



Amr bin Ubaid menyebut hadits Shadiqul Mashduq dan berkomentar,



”Seandainya aku mendengar hadits ini langsung dari A’masy, pasti aku akan dustakan, seandainya aku mendengar dari Rasulullah mengatakannya pasti akan aku tolak! dan seandainya aku mendengar Allah mengatakannya maka akan aku katakan,’Bukan atas ini Engkau mengambil mitsaq (perjanjian) dari kami”!!!



Kami (penulis artikel ini -red. vbaitullah) katakan,” Sesungguhnya ini kesesatan dan kekufuran yang nyata…”



Az Zamakhsyari berkata,



”Berjalanlah dalam agamamu dibawah panji akal, jangan engkau cukup dengan riwayat dari fulan dan fulan!“10



2. Kelompok Asy’ariyyah



Kelompok ini tidak berbeda dengan kelompok Mu’tazilah, hanya saja ibarat mereka lebih samar, mereka ini disebut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagai Makhanits Mu’tazilah “bancinya kelompok mu’tazilah.11



Inilah beberapa perkataan dari gembong-gembong mereka :



Fakhrur Razy berkata,



”Akal adalah landasan naql (dalil syar’i), maka mencela akal untuk membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus dan ini adalah bathil!”12



Adhudhin Al Lijy berkata,



”Mendahulukan naql diatas akal adalah bathil…”13



Demikianlah ibarat-ibarat mereka menunjukan bahwa sumber pengambilan ilmu menurut kelompok Asy’ariyyah adalah akal.14



4.3 Kelompok Rasionalis Gaya Baru (Pengekor Mu’tazilah)



Mereka adalah gabungan dari aneka ragam pemikiran-pemikiran, diantara mer eka ada yang disebut pemikir muslim(!), ada yang disebut cendekiawan muslim(!), dan ada yang sekadar tukang tulis dan tukang omong dimedia massa!!



Inilah ibarat-ibarat mereka :



Muhammad Abduh berkata,



”Telah sepakat kelompok-kelompoak islam kecuali sedikit dari orang-orang yang tidak dianggap perkataannya bahwa jika terjadi pertentangan antara akal dan naql maka apa yang diambil apa yang ditunjukkan oleh akal”!!!15



Seorang wartawan yang menganggap dirinya cendekiawan muslim bernama Fahmi Huwaidi menulis sebuah ulasan yang berjudul para penyembah berhala adalah para penyembah nash-nash syar’i, dia katakan bahwa usaha pembekuan akal di depan nash menurut ungkapannya adalah



“Paganisme (penyembahan kepada berhala) gaya baru, karena paganisme tidak hanya menyembah kepada berhala saja, karena ini bentuk paganisme gaya lampau, tetapi paganisme gaya sekarang adalah penyembahan kepada nash-nash syar’i!”16



Muhammad al Ghazaly berkata,



”Hendaknya kita mengetahui bahwa apa saja yang dihukumi bathil oleh akal mustahil kalau dia itu adalah agama… Agama yang benar adalah kemanusiaan yang benar, sedangkan kemanusiaan yang benar adalah akal yang menentukan suatu hakekat… tidak henti-hentinya kita tegaskan bahwa setiap hukum yang ditolak oleh akal… mustahil kalau dia itu adalah agama“(!!)17



Karena inilah kita melihat Muhammad Al Ghazaly begitu berani menolak banyak sekali hadits hadits yang shahih karena tidak mencocoki akalnya, seperti hadits Musa yang menempeleng malaikat maut, hadits sholatnya wanita dimasjid, hadits mayit diadzab karena tangis keluarganya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Untuk melihat bantahan kepada Al ghazaly dalam masalah ini bisa dilihat kitab Syaikhuna Al Allamah Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly yang berjudul Kasyfu Mauqif Al Ghazaly minass Sunnati wa Ahliha.



Hasan At Turaby As Sudany berkata,



”Adapun rujukan yang wajib bagi kita anggap sebagai rujukan pokok maka adalah akal….”18



Dengan bimbingan akalnya maka dia berkata,



”Boleh bagi seorang muslim sebagaimana seorang masehi untuk mengganti agamanya”19



Dengan akalnya pula ia ingkari hukum rajam kepada pezina dan hukum dera kepada peminum khamr.20



Yusuf Qardhawy tidak berbeda jauh dengan Muhammad Al Ghazaly, dia merasa heran kepada orang-orang yang selalu menyebutkan kepada khalayak ramai hadits lalat (yang shahih) atau hadits (shahih) tentang Musa yang menempeleng malaikat maut…21



Di lain waktu dengan lantang dia berkata,



”Kami tidak memerangi orang-orang Yahudi dengan landasan aqidah tetapi karena masalah tanah, kami tidak memerangi mereka karena kekafiran mereka, tetapi kami memerangi mereka karena mereka merampas tanah-tanah kami…”22



-----------------------------------

Catatan Kaki



…6 Mu’jam Musthalahat Ilmiyyah, Yusuf Khoyyath.

…7 Fi Fiqh Waqi’, Abdus-salam Baisuny, hal. 29.

…8 Manhaj Madrasah Aqliyyah Hadiitsah fi tafsir, Fahd Ar Rumy, hal. 53-54.

…9 Fadhlul I’tizal, hal. 139).

…10 Athwaqu Dzahab fil Mawa’izh wal khuthub, hal. 28.

…11 Majmu Fatawa, 6/359.

…12 Asasut Taqdis, hal. 221.

…13 Mawaqif fi Ilmi kalam, hal. 40.

…14 Al Aqlaniyyun, hal. 60.

…15 Islam dan Nasraniyyah, hal. 59.

…16 Majalah Araby, Edisi 235, hal. 34 kanon kedua 1978.

…“(!!)17 Majalah Dauhah, Qathar, Edisi 101 Rajab 1404 H.

…18 Tajd Fikr Islamy, Hal. 26.

…19 Ceramah dengan judul Tahkim Syari’at, sebagaimana dalam Sharim Maslul ala at Turaby Syatimir Rasul, hal.12.

…20 Sharim Maslul ala At Turaby Syatimir Rasul, hal. 12.

…21 Kaifa Nata’amalu ma’a Sunnah Nabawiyyahm, hal. 86.

…22 Wawancara dengan koran Rayah Qathar Edisi 4696, 24 Sya’ban 1415 H.



semoga bermanfaat



_____________________________________________________





^ KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM (3/3) ^



♥ Posted on March 21st, 2006 by admin ♥



(red. vbaitullah): Dari pembahasan yang kedua, nyatalah penolakan kaum ‘aqlaniyun (para pendewa akal) terhadap syari’at, terutama khabar-khabar yang tidak dapat dicerna oleh akal-akal mereka. Lalu (memangnya) kenapa pemikiran / paham mereka itu sesat? Di mana letak kesesatannya? Kalau sesat, bagaimana seharusnya kedudukan akal dan naql (wahyu) dalam Islam? Akhirnya, insya Allah pertanyaan-pertanyaan itu akan dijawab pada bagian akhir ini.





♥ MENGIKIS HABIS MODAL UTAMA KAUM RASIONALIS ♥



Demikianlah kaum rasionalis, mereka jadikan akal semata sebagai sumber ilmu mereka, mereka agungkan akal, dan mereka jadikan iman dan Al Qur’an tunduk dibawah akal23



Maka modal utama mereka adalah kaidah umum yang mereka dengung-dengungkan yaitu bahwa akal adalah landasan naql Dalil syar’i, maka mencela akal untuk membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus, dan ini adalah bathil!



Syubhat mereka ini telah dikikis habis dan dihancurkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang agung yang berjudul Dar’u Ta’arudh Aql wa Naql yang tersusun dalam 10 jilid, kemudian diringkas oleh muridnya Al Allamah Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Shawa’iq Mursalah yang tersusun dalam dua jilid.



Ibnul Qoyyim menyebut dalam kitabnya tersebut 54 argumen dalam membantah syubhat mereka ini, diantaranya :



Perkataan mereka bahwa akal adalah landasan naql adalah bathil karena apa yang dikhabarkan oleh Allah dan Rasulnya adalah shahih dari dirinya, entah kita ketahui dengan akal kita atau tidak kita ketahui, entah dibenarkan oleh manusia atau didustakan oleh mereka, sebagaimana Rasulullah adalah haq, meskipun didustakan oleh manusia, dan sebagaimana wujud Allah dan keberadaan nama-nama dan sifat-sifatnya adalah haq, entah akal kita mengetahui atau tidak.



Mendahulukan akal atas naql adalah cela pada akal dan naql sekaligus, karena akal telah bersaksi bahwa wahyu lebih tahu daripada akal. Jika hukum akal didahulukan atas wahyu maka itu adalah cela pada persaksian akal, jika persaksiannya batal maka tidak boleh diterima ucapannya, maka mendahulukan akal atas wahyu adalah cela pada akal dan wahyu sekaligus.



Syari’at diambil dari Allah dengan perantaraan malaikat dan Rasul-Nya, dengan membawa ayat-ayat, mukjizat mukjizat, dan bukti-bukti atas kebenarannya, hal ini diakui oleh akal. lalu bagaimana perkataan Allah pencipta semesta alam ditentang oleh pemikiran-pemikiran Plato, Aristoteles, Ibnu Sina dan pengikut-pengikut mereka?



Bagaimana perkataan seorang Rasul ditentang oleh perkataan seorang filosof, padahal filosof wajib mengikuti Rasul, bukan Rasul yang mengikuti filosof, karena Rasul diutus oleh Allah dan filosof adalah Umatnya.



Syaikh Ali bin hasan Al Halaby berkata,



”Jika seorang rasionalis dan pendewa akal tertimpa penyakit, maka segera dia pergi ke seorang dokter yang terpercaya, kemudian dia mengadukan kepada dokter itu keluhan dan penyakitnya, dan dia serahkan dirinya kepada dokter itu untuk ditangani dengan kepasrahan yang sempurna, walaupun dokter itu membedah tubuhnya!!



Jika dokter itu kedudukannya diruang periksa dan dia sebutkan hasil diagnosa dan resep obatnya, maka dia ambil langsung tanpa menanyakan susunan obat dan susunan kimianya!!



Jika dia disuruh dokter untuk minum obat sehari tiga kali… maka dia lakukan tanpa membantah!!



… Subhanallah!! hukum-hukum dokter yang dia adalah manusia biasa bisa benar dan bisa salah dia terima tanpa perdebatan, bahkan tanpa akal!!



Sedangkan hukum-hukum Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya maka dia membantahnya, membahasnya, mengeceknya, bahkan membantah dan menolaknya!! Manakah dua hukum diatas yang lebih wajib diterima secara akal!!24





♥ SIKAP SALAF TERHADAP AKAL DAN NAQL ♥



Salafush shalih memahami dangan yakin bahwasanya



“Agama adalah ketundukan dan kepasrahan, tanpa membantahnya dengan akal, karena akal yang sebenarnya adalah yang membawa pemiliknya untuk menerima sunnah, adapun yang membawa pemiliknya membatalkan sunnah maka dia adalah kejahilan, dan bukanlah akal.”25



Ketika Abdullah bin Mughaffal menyampaikan hadits tentang larangan Rasulullah dari melontar bintang dengan pelanting, ada seorang laki-laki berkata kepadanya,”Apa masalahnya dengan pelanting ini? “, maka Abdullah bin Mughaffal berkata,



”Aku sampaikan hadits Rasulullah kemudian kau katakan ini! Demi Allah aku tidak akan berbicara denganmu selama lamanya!”26



Lihatlah bagaimana orang ini memprotes hadits dengan akalnya! Bagaimana Abdullah bin Mughaffal menyikapinya?!



Padahal orang ini memprotes hadits dengan kata-kata yang sopan, tidak sebagaimana kelancangan kaum rasionalis abad ini yang dengan kasarnya menolak setiap hadits yang tidak masuk akalnya!!



Kita katakan kepada seluruh kaum rasionalis pendewa akal selama mereka masih mengaku muslim :



Apa logikanya sholat maghrib tiga raka’at, sedangkan sholat isya’ empat raka’at, padahal keduanya sama-sama dilaksanakan pada malam hari?! Apa logikanya perpindahan qiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram?! Kenapa Thawaf harus ke Ka’bah?! Kenapa Thawaf harus tujuh putaran?!



Kami katakan tidak ada jalan bagi akal dalam hal-hal seperti ini kecuali mengimani dan melaksanakannya dengan keimanan yang sempurna, dan kepasrahan yang mutlak sebagaimana dalam firman Allah,



”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36).



Maka para sahabat tidak pernah sekalipun mempermasalahkan nash-nash dengan akalnya padahal mereka manusia-manusia terbaik umat ini yang paling sempurna akalnya.



Para sahabat begitu sangat kepasrahannya kepada Sunnah, walaupun akal mereka belum bisa menerima, bahkan mereka begitu keras pengingkarannya kepada siapa saja yang menolak Sunnah.



Nash-nash yang datang dari Rasulullah lebih agung di hati-hati mereka dari membantahnya dengan sebab perkataan siapapun dari manusia.27



Pembahasan ini disarikan dari kitab Al Aqlaniyyun Afrakhu Mu’tazilah Al Ashriyyu, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby. Al Atsary).





♥ P E N U T U P ♥



Pemisah antara Ahli Sunnah dan Ahlil Bid’ah adalah dalam masalah akal: Ahlil Bid’ah menjadikan landasan agamanya adalah akal dan mereka jadikan Ittiba’ (mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -red. vbaitullah) dan atsar sebagai pengikut akal.



Adapun Ahli Sunnah mengatakan bahwa landasan agama adalah Ittiba’ sedangkan akal sebagai pengikutnya. Seandainya agama didasarkan pada akal, maka sungguh para makhluk tidak butuh kepada wahyu, tidak butuh kepada para nabi, hilanglah makna perintah dan larangan, dan setiap orang akan mengatakan apa yang dia mau.



Jika kita mendengar sesuatu dari perkara-perkara agama, kemudian kita bisa memahaminya dengan akal kita, maka kita bersyukur kepada Allah atas Taufiq-Nya. Jika akal kita belum sampai kepadanya, maka kita beriman dan membenarkannya.



Maka kita memohon taufiq dan keteguhan kepada Allah, semoga Allah mewafatkan kita diatas agama Rasulullah dengan anugerah dan kemurahan-Nya28



Catatan Kaki



…23 Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, 5/338.

…24 Al Aqlaniyyun, hal. 175.

…25 Al Hujjah fi Baynil Mahajjah, 2/509.

…26 Muttafaqun Alaih.

…27 Shawa’iq Mursalah, 3/1053,1065.

…28 Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 1/317.



***fin



---------------------



Posted by : Putschy Nilakandi pada Group Jalan yang Lurus, tanggal. 10 Agustus 2011

CARA MENTADABBURI QUR'AN


Cara Mentadabburi AlQuran

oleh Sukpandiar Idris Advokat Assalafy pada 10 Agustus 2011 jam 0:44

Bulan Ramadhan, merupakan bulan al-Qur’an, sebagaimana difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla.



"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)". [al-Baqarah/2:185].



Dalam sunnah ‘amaliyah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, terdapat keterangan tentang praktik nyatanya. Jibril Alaihissallam mengajak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertadarus al-Qur’ânpada setiap malam bulan Ramadhân . HR.Bukhori.“



Puasa dan Al Qur’an memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : “Yaa Rabbi, saya menahan dia dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Al Qur’an berkata : “Saya menahannya dari tidur di malam hari maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Maka keduanya pun memberi syafaat. ( Shahih Targhib wat Tarhib : 1/483 (969) ) juga HR.Ahmad, Al-Hakim dan Abu Nu'aim-SI, berkata A-Haitsami berkata Rijal hadits ini shahih, Syaikh salim Al-Hilali telah pula men sahkannya.



Masalah utamanya bukan sekadar baca , tapi yang lebih penting adalah memahaminya, mentadabburinya!. Bagaimanakah caranya?.



Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Merupakan kewajiban bagi siapa saja -yang dikhususkan oleh Allah Ta’ala dengan menghafal al-Qur’an- agar membaca dengan bacaan yang sebenarnya (haqqa tilawatih), mentadabburi dengan hakikat ibrah dan pelajarannya, memahami segela keistimewaannya dan mencari tahu apa yang asing baginya.” (al-Jami’ liahkam al-Qur’an 1/ 2)



Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata tentang kemuliaan al-Qur’an, “Hendaknya dibaca dengan tenang, pelan-pelan dan tartil, dan merupakan kemuliaan al-Qur’an hendaknya (dalam membaca) dengan mencurahkan ingatan dan segenap pemahaman sehingga dapat mencerna apa yang difirmankan itu. Termasuk memuliakan al-Qur’an juga hendaknya berhenti pada ayat-ayat janji (wa’d) dan berharap kepada Allah subhanahu wata’ala serta memohon keutamaan dari-Nya, berhenti pada ayat ancaman (wa’id) dan memohon perlindungan kepada Allah darinya.” (al-Jami’ liahkam al-Qur’an 1/27, dan dinisbatkan ke kitab Nawadir al-Ushul)



Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Apabila membaca al-Qur’an dengan tafakkur sehingga tatkala melewati ayat yang dia (pembaca) butuh terhadap ayat itu untuk mengobati hatinya, maka hendaknya dia mengulang-ulang ayat itu meskipun seratus kali, bahkan meskipun semalam suntuk. Karena membaca satu ayat dengan tafakkur dan pemahaman, lebih baik daripada menghatamkan bacaan dengan tanpa tadabbur dan pemahaman. Dan juga lebih bermanfaat bagi hati, lebih dapat menghantarkan kepada tercapainya kesempurnaan iman serta rasa manisnya al-Qur’an.?¨ (Miftah Dar as-Sa’adah, hal 402)



Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Berkata al-Qadhi, “Kriteria minimal tartil adalah dengan meninggalkan ketergesaan dalam membaca al-Qur’an, dan yang sempurna adalah tartil di dalam membaca, merenungi ayat-ayat itu, memahaminya, serta mengambil pelajaran darinya meskipun sedikit di dalam membaca, dan ini lebih baik daripada terus membaca dengan tanpa pemahaman sama sekali.”



Sementara Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Seseorang yang membaca al-Qur’an hendaknya memperbagus suaranya dan membacanya dengan rasa takut dan dengan tadabbur, dan ini merupakan makna dari sabda Nabi, “Tidak pernah Allah menyeru dengan sesuatu seperti menyerunya kepada Nabi agar membaguskan suara dan memperindah dalam membaca al-Qur’an dengan mengeraskannya.” (HR. al-Bukhari no.5024, Muslim no. 297,233, an- Nasai, 2/180, Abu Dawud no.1473 dari hadits Abu Hurairah). (al-Adab asy- Syar’iyyah).



Imam as-Suyuthi rahimahullah menyifati wukuf (merenungi) makna-makna al-Qur’an dengan perkataannya, “Hendaknya hati sibuk memikirkan makna-makna ayat yang dilafadzhkan, sehingga mengetahui masing masing ayat, lalu merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangannya, serta berkeyakinan untuk menerima itu semua. Jika pada masa lalu ia termasuk orang yang tidak perhatian terhadap masalah itu, maka dia meminta ampun dan beristighfar, jika melewati ayat rahmat maka dia gembira dan memohonnya, atau melewati ayat adzab maka merasa takut dan meminta perlidungan, atau melewati ayat tentang penyucian atau tasbih kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hendaknya menyucikan dan mengagungkan-Nya, atau melewati ayat yang berisikan doa, hendaknya merendah diri dan memintanya. (al-Itqan fi Ulum al-Qur’an 1/ 140)



Berkata al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah, “Dan selayaknya dalam masalah itu (membaca al-Qur’an) hendaknya menjadikan makna sebagai tujuan, sedangkan lafazh adalah sebagai sarana untuk memahami makna, maka hendaknya melihat kepada siyaqul kalam (arah pembicaraan) serta kepada siapa pembicaraan itu ditujukan, lalu mempertemukan antara yang dia baca itu dengan pendapatnya dalam tempat (ayat) yang lainnya. Dan hedaknya dia mengetahui bahwa al-Qur’an ditujukan untuk memberi petunjuk kepada manusia baik yang ‘alim maupun yang bodoh, yang ada di kota maupun yang ada di pelosok. Barang siapa yang mendapatkan taufik untuk itu maka tidak ada yang tersisa pada dirinya kecuali akan memberikan perhatian untuk mentadabburi dan memahaminya, akan banyak memikirkan lafazh dan maknanya, kewajiban-kewajiban dan kandungan nya, serta petunjuknya baik yang diucapkan atau yang difahami. Jika seorang memang telah mencurahkan seluruh perhatian dalam masalah ini maka Allah subhanahu wata’ala akan memuliakan sebagian di antara hamba-Nya, dan Allahƒnsubhanahu wata’ala tentu akan membukakan ilmu-Nya berupa hal-hal yang tadinya tidak mampu dia usahakan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, 12)



Cikarang Barat , 10 Ramadhan 1432 H / 10 Agustus 2011 JAM 00.44 WIB

Tukang: Baru mencari Ilmu, Herbalis, Thibbun Nabawy, Penjual Buku Islam dan Advokat (0811195824)



ABU Hada SUKPANDIAR IBNU MUHAMMAD IDRIS

Meraih safaat via Qur'an dan puasa


Menggapai Syafaat dengan Alquran dan Puasa

by Sukpandiar Idris Advokat Assalafy on Friday, August 5, 2011 at 12:40am

Dari Abdullah ibn Amr radiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فشفعني فيه قال فيشفعان

“Puasa dan Al Qur’an memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : “Yaa Rabbi, saya menahan dia dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Al Qur’an berkata : “Saya menahannya dari tidur di malam hari maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Maka keduanya pun memberi syafaat. ( Shahih Targhib wat Tarhib : 1/483 (969) ) juga HR.Ahmad, Al-Hakim dan Abu Nu'aim-SI, berkata A-Haitsami berkata Rijal hadits ini shahih, Syaikh salim Al-Hilali telah pula men sahkannya.



Hadits di atas sebenarnya harus di Imani dan di yakini, di amalkan sesui dengan zohirnya , tanpa pentakwilan seperti , kalo gitu puasa dan Quran bisa ngomong dunk , berarti mahluk!. Abu Hada berkata, hanya Allah azza wajalla yang tahu tentang sifat ngomong Quran dan Puasa sebagaimana maksud hadits di atas. Inilah perkara ghaib mengenai Iman!.SI.



Allah Subhana wata'ala berfirman



(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(QS. 2:3)

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ



Pertama : Beriman kepada yang ghaib. Termasuk di dalamnya beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, menundukkan diri serta menyerahkannya sesuai dengan yang diharuskan oleh iman itu. Tanda keimanan seseorang, ialah melaksanakan semua yang diperintahkan oleh imannya itu.

Yang gaib, ialah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh pancaindra. Pengetahuan tentang yang gaib itu semata-mata berdasar kepada petunjuk-petunjuk Allah . Karena kita telah beriman kepada Allah, maka kita beriman pula kepada firman-firman dan petunjuk-petunjuk-Nya Termasuk yang ghaib ialah : Allah, Malaikat, hari kiamat, surga, neraka, mahsyar dan sebagainya.

Pangkal iman kepada yang ghaib ialah iman kepada Allah subhana wata'ala. Iman kepada Allah adalah dasar dari pembentukan watak dan sifat-sifat seseorang manusia agar ia menjadi manusia yang sebenarnya, sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia.



Kiatnya



Agar dapat menggapai syafaat dari 2 amalan ini Quran dan puasa- SI, tiada lain dengan cara yang telah di contohkan oleh Rosulullallah shallallahu 'alaihi wasallam denagn pemahaman dari para sahabat , bukan yang lain!.



Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang. Maka kami berkata: Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Rasulullahshallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perbedaan pendapat. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat “ (Riwayat Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)



Cikarang Barat , 5 Ramadhan 1432 H / 5 Agustus 2011 JAM 00.40 WIB

Tukang: Baru mencari Ilmu, Herbalis, Thibbun Nabawy, Penjual Buku Islam dan Advokat (0811195824)



ABU Hada SUKPANDIAR IBNU MUHAMMAD IDRIS

Senin, 20 Juni 2011

KAYA HATI, ITULAH KAYA KENYATAANNYA


Bismillah ....

KAYA HATI, ITULAH KAYA SENYATANYA ... !!!

Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”[1]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”[2]

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[3]

Saudaraku ... milikilah sifat qona’ah, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
By: I LOVE THE SUNNAH

DI SAAT IMPIAN BELUM TERWUJUD


Bismillah >>>
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

DI SAAT IMPIAN BELUM TERWUJUD ... !!!

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Setiap orang pasti memiliki impian dan cita-cita. Berbagai usaha pun dikerahkan untuk mencapai impian tersebut. Namun kadang usaha untuk menggapai impian kandas di tengah jalan dikarenakan berbagai rintangan dari dalam maupun dari luar. Tentu saja impian yang kami maksudkan di sini adalah impian yang logis yang bisa dicapai dan bukan hanya khayalan di negeri antah berantah. Di saat impian tadi belum terwujud, bagaimanakah cara untuk menggapainya? Semoga tulisan ini bisa memberikan solusi terbaik.

Belajar dari Kisah Ibrahim 'alaihis salam dan Istrinya

Suatu pelajaran yang patut dicontoh adalah kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama istrinya, Sarah. Lihatlah impiannya untuk memiliki anak sekian lama, akhirnya bisa terwujud. Padahal ada tiga sebab yang menjadi penghalang ketika itu. Sarah sudah sangat tua, Ibrahim pun demikian dan Sarah adalah wanita yang mandul.[1] Ada ulama yang berpendapat bahwa ketika anaknya Ishaq itu lahir, Sarah berusia 90-an tahun dan Ibrahim berusia 100-an tahun.[2] Namun di usia sudah sangat senja seperti itu, Allah Ta'ala memudahkan mereka memiliki anak, yaitu Ishaq yang akan menjadi seorang Nabi. Mengenai kisah Ibrahim dan Sarah, kita dapat melihat dalam dua surat. Dalam kisah mereka, Allah Ta'ala menceritakan kedatangan tamu (para malaikat). Ia pun dan istrinya menjamu mereka dengan sangat baiknya dan malaikat tersebut membawa kabar gembira pada Ibrahim dan Sarah atas kelahiran Ishaq,

“(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul". Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan" Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ” (QS. Adz Dzariyaat: 24-30)

Dalam surat Huud, Allah Ta'ala menceritakan,

“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." ” (QS. Huud: 71-72)

Lihatlah bagaimana impian Sarah dan Ibrahim untuk memiliki anak baru terwujud setelah mereka berada di usia sangat-sangat tua. Ketika menyebutkan kisah ini, Allah Ta'ala pun mengatakan di akhir kisah bahwa Allah itu Al 'Alim (Maha Mengilmui) dan Al Hakim (Maha Bijaksana). Artinya, Allah Ta'ala memiliki ilmu yang sempurna. Sedangkan Allah itu Al Hakim menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak, keadilan, rahmat, ihsan, dan kebaikan yang sempurna. Di samping itu Allah Ta'ala pun betul-betul menempatkan sesuatu pada tempatnya. Inilah pelajaran di balik nama Allah Al Alim dan Al Hakim.[3] Suatu yang mustahil dapat terjadi jika Allah menghendaki. Suatu impian yang sulit terwujud dapat digapai dengan kekuasaan Allah. Allah Ta'ala berfirman,

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21). Maha Mulia Allah Ta'ala dengan segala sifat-sifatnya yang maha sempurna.

Pahamilah Takdir Ilahi

Ketahuilah setiap yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun yang lalu sebelum penciptaan langit dan bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Jika seseorang mengimani takdir ini dengan benar, maka ia pasti akan memperoleh kebaikan yang teramat banyak. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94) [4]

Yang Allah takdirkan tidaklah sia-sia. Pasti ada hikmah di balik itu semua. Allah Ta'ala berfirman,

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39). Oleh karena itu, jika impian itu belum terwujud, maka perlu kita pahami bahwa itulah ketentuan Allah. Allah menjanjikan hikmah di balik itu semua karena sifat hikmah yang sempurna yang Dia miliki.

Terus Tawakkal dan Berusaha Semaksimal Mungkin

Kita harus punya sifat optimis dengan selalu bertawakkal (menyandarkan hati pada Allah) dan tetap berusaha untuk menggapai impian yang kita cita-citakan. Ingatlah bahwa siapa saja yang bertakwa dan bertawakkal pada Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah Ta'ala akan memberikan ia jalan keluar dan akan memberikan ia selalu kecukupan. Allah Ta'ala berfirman,

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Perlu diperhatikan bahwa impian bukan sekedar angan-angan yang tidak ada realisasinya. Jika impian ingin dicapai, tentu harus ada usaha semaksimal mungkin. Cobalah kita saksikan contoh gampangnya adalah seekor burung ketika ia ingin menggapai impiannya untuk memperoleh makanan di hari itu, dia pun pergi ke luar sarangnya untuk mencari hajat yang ia butuhkan. Ketika pulang pun ia dalam keadaan tenang. Inilah yang diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Umar bin Al Khottob;derajat hasan). Lihatlah bagaimana seekor burung saja mewujudkan impiannya dengan mencari rizki, dengan berusaha semaksimal mungkin. Bagaimanakah lagi kita selaku insan yang diberi anugerah akal oleh Sang Kholiq?

Teruslah Memohon pada Allah

Untuk mewujudkan impian, janganlah lupakan Yang Di Atas. Kadang kita lalai dan hanya bergantung pada diri kita sendiri yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Maka perbanyaklah do'a. Karena setiap do'a pastilah bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman,

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu'min: 60)

Jika ada yang bertanya, “Aku sudah seringkali berdo'a, namun mengapa impianku belum tercapai juga?” Kami bisa memberi jawaban sebagai berikut:

Pertama: Do'a boleh jadi terkabul, namun kita saja yang tidak mengetahui bentuk terkabulnya. Terkabulnya do'a bisa jadi dengan dipalingkan dari kejelekan dari do'a yang kita minta. Dan boleh jadi Allah simpan terkabulnya do'a tadi di akhirat kelak. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad, dari Abu Sa'id; derajat hasan)

Contohnya seseorang berdo'a, “Allahummar-zuqnii, Allahummar-zuqnii” (Ya Allah, berilah aku rizki. Ya Allah, berilah aku rizki). Boleh jadi do'a tersebut, Allah kabulkan segera atau diakhirkan. Allah Ta'ala Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba tersebut. Bahkan boleh jadi pula, Allah simpan do'a tersebut untuk meninggikan derajatnya di surga. Ini tentu saja lebih tinggi dari kebahagiaan di dunia. Kebahagiaan di akhirat kelak tentu jauh berbeda dari kebahagiaan di dunia. Malik bin Dinar mengatakan,

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Lalu bagaimana lagi jika akhirat itu adalah emas yang akan kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang akan fana?”[5]

Kedua: Terkabulnya do'a boleh jadi diakhirkan agar seseorang tetap giat dan bersemangat dalam berdo'a. Ketika ia giat berdo'a, maka ia pun akan mendapatkan ketinggian derajat di akhirat kelak. Cobalah kita perhatikan apa yang terjadi pada para Nabi 'alaihimush sholaatu wa salaam. Mereka terus saja berdo'a dan memperbanyak do'a, namun terkabulnya do'a mereka diakhirkan agar mereka tetap semangat dalam berdo'a. Di antara contohnya adalah Nabi Ayyub 'alaihis salam yang diberi cobaan penyakit selama 18 tahun sehingga ia pun dijauhi kerabat dan yang lainnya. Namun ia tetap terus berdo'a dan berdo'a. Allah pun memujinya karena kesabarannya tersebut,

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44)[6]

Ketiga: Boleh jadi do'a tersebut sulit terkabul karena beberapa faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah seseorang mengangkat tangan ke langit, namun ia sering mengkonsumsi makanan, minuman dan menggunakan pakaian yang haram atau diperoleh dari hasil yang haram (sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Muslim no. 1015, dari Abu Hurairah). Inilah yang membuat do'a seseorang sulit terkabul. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita rajin mengintrospeksi diri, siapa tahu do'a kita tidak kunjung terkabul karena sebab mengkonsumsi yang haram.

Penutup

Teruslah berusaha, memohon pada Allah, dan janganlah putus asa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim no. 2664, dari Abu Hurairah)

Jadikanlah impian kita semata-mata untuk tujuan akhirat dan bukan dunia semata. Jika ingin meraih kekayaan, jadikanlah ia sebagai amal sholih untuk tujuan akhirat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, shahih)

Ketika impian tercapai, maka perbanyaklah syukur pada Allah dengan selalu taat dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Lihatlah bagaimana do'a Ibrahim ketika di usia senja ia masih diberi keturunan.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39). Ada ulama yang mengatakan bahwa ketika Isma'il lahir, usia Ibrahim 99 tahun dan ketika Ishaq lahir, usia beliau 112 tahun.[7]

Semoga tulisan ini bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
By: I LOVE THE SUNNAH

SYUKUR


Bismillah…

1000 ALASAN UNTUK BERSYUKUR >>>>

Suntuk! Terduduk aku di kursi kelas sebelum kelas malam di mulai. Termenung, di kala teman2 yang lain sibuk murajaah dan mengerjakan tugas kampus.. Tiba2 saja datang seorang akhwat duduk di sampingku sambil meminta kertas dan meminjam pulpen. “ga ada mba,afwan” jawabku singkat. Lalu ia mencari pinjaman lain. Dalam waktu beberapa detik saja ia mendapatkannya, lalu ia mengambil posisi menulis dan langsung menggoreskan pulpennya di kertas itu… Beberapa menit kemudian kulirik tulisan akhwat shalihat di sampingku itu, ‘hah..udah penuh aja kertasnya’ batinku. Kulihat kertas itu telah penuh 7/8 bagian karena tulisannya yang berupa poin-poin.. penasaran. Kuberanikan diri tuk bertanya.

A : lg nulis apa mba? Serius bgt kayaknya

B: hehe,, gak sih sebenernya.. km mau lihat? Boleh aja tapi kmu ga boleh ketawa..

A : ketawa knp? Gaklah mba.. emang mb nulis apa?

Dan taukah kau apa yang kudapati di selembaran kertas binder bergaris berwarna putih itu? Sesuatu yang diatasnya bertulis “1000 alasan untuk bersyukur hari ini…”

Aku terperanjat…

A : subhanalllah… knp e mba?? (hanya itu kata2 yg keluar dari kekagumanku)

B : aq lagi down deq.. tapi aku ga pengen down.. aku nulis apa-apa aja yg harus aku syukuri hari ini agar aku ga down.. aku ga mau kalah dengan perasaan down-ku…

Subhanallah.. tidak henti-hentinya mulut ini bertasbih… kulirik lagi kertas yang masih ia tulus… sudah nomor ke 28, pertanda 28 nikmat yang ia rasakan hari ini… kubaca dari poin nmr 1, 2 ,3 dst… dan taukah nikmat-nikmat apa yang ia syukuri itu?? Seperti ini…

Aku punya Allah dan RasulNya..
Aku saat ini alhamdulillah sehat
Aku masih bisa merasakan bangku kuliah yang biayanya tidak murah
Aku tidak terserang penyakit autoimun sehingga aku tak perlu melawan sel-sel tubuhku sendiri
Aku punya 2 tangan tuk menulis
Aku punya 2 kaki sempurna tuk berjalan
Aku punya 2 mata sehat yang tidak berkacamata
Aku punya 2 telinga tuk mendengar hikmah
Aku punya mulut tuk membaca qur’an
Aku tinggal di indonesia sehingga aku tak perlu merasakan dinginnya winter dan ‘gerah’nya summer

Heii…!!! lihatlah dari apa yang ia tulis!! 10 poin teratas saja sebagian besar bahkan semua adalah hal-hal yang kita miliki juga… tapi seberapa sering kita memaknainya? Seberapa sering kita mensyukurinya?

Lagi-lagi Allah menegurku.. aku kalah dengan suntukku hingga tak mood datang ke kelas tuk mendengarkan materi dari ustad malam ini.. ironisnya, yang disampingku adalah akhwat tegar yang ia sedang bersusah payah melawan mood “down”nya…

Kulirik kembali ke kertas yang masih ia tulis… kulihat raut mukanya.. raut muka yang berusaha menutupi kesedihannya dengan melawan perasaan itu.. matanya yang bundar berputar-putar mencari-cari nikmat apa lagi yang ia punya sebagai mekanisme copping baginya agar tak ada alasan lagi untuk down… “subhanallah” tak henti-hentinya bibirku memuji akhwat satu ini…

Selagi ia berfikir, kuambil pulpen dari tangannya, dan kutuliskan di nomor ke 53, nomor terakhir yang ia tulis saat itu

“aku punya Allah Yang Maha Besar, sebesar apapun masalahku… Dan aku punya jiwa yang besar tuk melapangkan hati atas apapun yang Allah takdirkan terjadi padaku… Aku akhwat Qowwi (kuat)”

Setelah menulis, kuletakkan pulpen, ia pun membaca tulisanku dalam hening… seketika ia terdiam… lalu mengambil kembali pulpen itu dan menuliskan di nomor 54

“aku punya saudara seiman yang menguatkan aku kala aku rapuh dan mengajakku bangkit kala ku terjatuh… saudara yang kusayangi dan menyayangiku karenaNya…”

Dalam hening, akupun membacanya… dan iapun katakan “jazakillah Aisyah—begitu ia memanggilku”…

“aku mba yang jazakillah… mba menginspirasiku…”jawabku sambil berkaca2

“wa iyyaki” jawabnya sambil memelukku.. dan ia pun menutup kertas itu, tanda ia tak perlu lagi menambahkan nmr 55 di bawahnya…

“setiap muslim adalah cerminan bagi muslim yang lain… lalu pantulan cermin seperti apakah yang dapat kita pantulkan dalam diri ini tuk saudara-saudara kita di jalan ini? Semoga hanya ada pantulan-pantulan kebaikan…aamiin”
by: I LOVE THE SUNNAH

Minggu, 29 Mei 2011

TA'ARRUF


Bismillah ...

Ukhty Ana Tertarik Ta'aruf Sama Anti ... !??

"Ukhty aku tertarik Ta'aruf sama anti" .....itulah kalimat yg sering di adukan oleh para akhwat yg penulis kenal,Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta'aruf dari ikhwan Dunia Maya,Berdasarkan curhat pada akhwat,rata2 si ikhwan tertarik pada akhwat melalui penilaian komentar akhwat,

Banyaknya jaringan sosial di Dunia Maya seperti Facebook,Yahoo Massenger dll,menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas,Begitu lembut dan halusnya jebakan Dunia Maya,tanpa di sadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan

Kasus Ta'aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya,seorang bergelar ikhwan memajang profil Islami,tapi serampangan memaknai ta'aruf,melihat akhwat yg di nilai bagus kualitas agamanya langsung berani mengungkapkan kata ta'aruf tanpa perantara

Jangan memaknai kata ta'aruf secara sempit,pelajari dulu serangkaian tata cara ta'aruf atau kaidah kaidah yg di benarkan oleh Islam,jika memakai kata ta'aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis lantas apa bedanya yg telah mendapat Hidayah,dengan yg masih Jahiliyah? islam telah memberi konsep yg jelas dalam tatacara ta'aruf,suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu JEJARING SOSIAL pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta'aruf dan untuk menjaga perasaan masing2 di gantilah status mereka berdua sebagai PASUTRI sungguh memiriskan hati

Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yg saling mengumbar kegenitan di Dunia Maya,berikut ini petikan obrolan;

" Assalamu alaikum ukhti? Sapa sang ikhwan

" Wa alaikum salam akhi? balas sang akhwat

" Subhanallah ukhti,ana kagum dengan kepribadian anti,seperti SUMAYYAH,seperti KHAULAH binti AZWAR,,,bla,,,,bla,,,,bla,,,,puji ikhwan tersebut

Apakah akan berakhir sampai di sini? Oh no,,,,,Rupanya yg di temui ini juga akhwat genit,maka berlanjutlah obrolan tersebut,si ikhwan bertanya apakah Si akhwat sudah punya calon? Lantas si akhwat menjawab,

" Alangkah beruntungnya akhwat yg mendapatkan akhi kelak"

sang ikhwan pun tidak mau kalah,balas memuji akhwat;

"Subhanallah,sangat beruntung ikhwan yg mendapatkan bidadari Dunia seperti anti,Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas,Ikhwannya membabi buta,Akhwatnya terpedaya,,,,Owh mengerikan,berlebay lebay di dunia maya syaitan tak mau menyia nyiakan kesempatan ini,lalu tertancaplah rasa bermekaran di dada dua sejoli tersebut yg belum ada ikatan pernikahan

Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji2 manis,akan mengajak akhwat hidup di planet MARS,mengunjungi benua2 di dunia Hingga larutlah keduanya dalam janji2 lebay,ikhwannya membabi buta,akhwatnya terpedaya,,,,,A'udzubillah,bukan begitu ta'aruf yg Rasulullah ajarkan

Wahai Ikhwan

Jangan permainkan ta'aruf,Muslimah itu mutiara,tidak sembarang orang boleh menyentuhnya,tidak sembarang orang boleh memandangnya,Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya,Carilah cara yg baik,yg di benarkan Islam,cari tau Informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga,yg bisa di percaya,jika maksud ta'arufmu untuk menggenapkan separuh Agamamu,silakan saja tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam,,,,

Wahai Ikhwan,,,relakah jika adikmu di jadikan ajang coba2 ta'aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah Izzah muslimah,mereka adalah saudaramu,pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya,fahamilah,hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh,akan timbul guncangan batin jika jeratan yg kalian tabur tersebut hanya sekedar main2

Jagalah hati mereka,jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yg dapat melunturkan keimanan mereka,Merekaa adalah wanita2 Pemalu,yg ingin meneladani wanita mulia di awal2 Islam,biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias ( Jaringan Ikhwan Lebay )

Wahai Akhwat,,ini hanya sekedar nasihat,jgn mudah percaya dgn apa yg di presentasikan orang di Dunia Maya,krna foto dan kata2 yg tidak di ketahui kejelasan karakter,wanita tidak dapat di jadikan tolak ukur kesalehan mereka,hendaklah mengutus orang yg amanah yg membantumu mencari data dan Informasinya,,,Luasnya Ilmu yg engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis

Duhai Akhwat,,,,jaga hijabmu,jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibawaanmu,jangan bangga krna banyaknya ikhwan yg menginginkan ta'aruf,krna ta'aruf yg tidak berdasarkan aturan syar'i,sesungguhnya sama saja si Ikhwan merendahkanmu,jika ikhwan itu punya niat benar2 dan serius,tentu akan memakai cara yg Rasulullah ajarkan,dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri

Duhai akhwat,,,,

terkadang qta hrus mengoreksi cara qta berinteraksi dengan mereka,apakah ada yg salah hingga membuat mereka tertarik dengan qta? Terlalu lunakkah qta terhadapnya?

Duhai akhwat,,,sadarilah orang2 yg engkau kenal di Dunia Maya,tidak smua memberikan Informasi yg sebenarnya,waspadalah,krna engkau adalah sebaik baik wanita yg menggenggam amanat Illahi,jangan mudah terpadaya oleh rayuan orang di Dunia Maya,Berhiaslah dengan Akhlaq Islami,jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yg bukan mahram,biarkan apa yg ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak

Duhai Akhwat,,,ta'aruf yg sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islami,bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum akad nikah.

Semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiran ...